DARI CAHAYA KEPADA BIDADARI

Maka… berserakanlah keping bintang bercahaya di hamparan hidupmu

MENANGIS ATAS TRAGEDI IMAM HUSAYN: SUNAH ATAU BID’AH? Januari 9, 2008

Filed under: artikel bebas — haidarrein @ 3:28 am

MENANGIS ATAS TRAGEDI IMAM HUSAIN: SUNAH ATAU BID`AH?

Oleh: Muhammad Taqi

Pertama-tama kami tegaskan bahwa masalah memperingati Tragedi Karbala (10 Muharram) bukanlah masalah khas Syi’ah, tetapi masalah islami. Sebab, Husain (salam Allah atasnya)—tokoh utama di balik tragedi tersebut— bukanlah pelita bagi orang-orang Syi’ah saja, tetapi beliau adalah lentera hati setiap mukmin, apapun mazhabnya. Maka, dari sini kami menyimpulkan bahwa apa saja yang berkaitan dengan peristiwa Karbala pada hakikatnya adalah fenomena dan tradisi islami.
Tema yang ingin kami kaji kali ini adalah tentang tangisan dan pengaruhnya terhadap perilaku manusia. Kami berusaha menjawab pertanyaan-pertanya an kritis seputar tangisan yang biasa dilakukan orang-orang Syi`ah saat mengenang peristiwa Karbala. Misalnya, mengapa kita menangisi Imam Husain, padahal beliau adalah penghulu para syuhada? Bukankah beliau telah mendapatkan tempat yang terhormat di sisi Allah? Apa rahasia di balik tangisan, teriakan, dan tamparan dada atau kepala yang dilakukan orang-orang Syi`ah di hari Asyura’? Bukankah tangisan itu menjerumuskan diri kita ke dalam kehancuran?  Kami akan menjawab pertanyaan-pertanya an tersebut dengan mengemukakan ayat-ayat Al-Quran al-Karim dan hadis-hadis Nabi yang otentik yang menunjukkan bahwa menangis merupakan tradisi (sunah) para nabi dan orang-orang saleh.READ MORE
Tujuan utama kami adalah mengembalikan kebenaran ke tempat asalnya, sehingga tidak ada seorang Muslim yang berkata: Tinggalkanlah tangisan ini! Itu adalah bid’ah dan buatan (kreatifitas) orang-orang Syi’ah.
Akhirnya, Allah-lah yang mewujudkan segala keinginan dan Dia penunjuk jalan kebenaran.

KEADAAN MANUSIA

Manusia manapun pasti akan merasakan pahitnya kehidupan. Manusia tidak akan bisa menghindar dari kegetiran zaman dan perputaran roda kehidupan. Kata orang: Apabila masa cukup adil, maka hari ini Anda akan beruntung (baca: gembira) dan esok hari Anda akan merugi Lembaran kehidupan manusia diawali dengan tangisan dan diakhiri pula dengan tangisan. Manusia gembira dan tertawa ketika kehidupannya dikelilingi oleh kenikmatan-kenikmat an. Sebaliknya, ia sedih dan menangis ketika mengalami penderitaan dan kesusahan.
Tetapi, seorang Muslim sadar dan mengetahui bahwa dunia yang hina ini adalah tempat cobaan dan ujian. Dia tidak peduli dengan musibah-musibah keras yang menimpanya dan tidak pula dia mengeluh kesal atasnya. Dia berkata: “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.” Dengan kesadaran penuh dia akan meneruskan perjalanan menuju Allah meski segudang rintangan menghadangnya. Sosok Muslim sejati seperti itu dapat kita lihat pada Nabi Yusuf As-Shidiq (yang benar) melalui perkataannya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku.” (QS. Yusuf : 33)
Dan sosok Muslim hakiki seperti itu juga kita temukan pada pribadi Imam Husain ketika beliau menyampaikan kalimat abadinya: “Sungguh aku tidak melihat kematian kecuali kebahagiaan dan kehidupan bersama orang-orang zalim adalah kesengsaraan.”1
Ringkasnya, orang Muslim hakiki senantiasa mengingat Allah SWT dalam kelapangan dan kesempitan dan mengorbankan dirinya dan barang berharga yang dimilikinya untuk menegakkan agama-Nya. Maka, kebahagiaan abadi baginya hanya ditemukan di surga dan dunia baginya adalah tempat tangisan (cobaan) dan kehancuran.

TANGISAN DAN MANFAATNYA DALAM AL-QUR’AN

Kami akan menunjukkan beberapa ayat Al-Quran Al-Karim yang menunjukkan perlunya menangis beserta manfaatnya.
Dalil yang pertama: Allah SWT berfirman dalam surat An-Najm: “Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis?” (QS. An-Najm: 59-60)
Maknanya ialah: Apakah kalian heran (ingkar) terhadap Al-Quran al-Karim dan Rasulullah saw; dan kalian tertawa (mengejek) dan tidak menangis? Pertanyaan dalam ayat ini untuk mencaci.2
Dalil kedua: Firman-Nya dalam surat Maryam: “Dan ceritakanlah kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Quran al-Karim. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan ia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh umatnya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. Dan ceritakanlah (kepada mereka kisah) Idris (yang tersebut) dalam Al-Quran al-Karim. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah SWT, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 54-58)
Allah SWT menceritakan dalam ayat-ayat tersebut bahwa menangis termasuk karakterisktik moral para nabi. Dan nikmat menangis ini disebakan empat tingkatan spiritual: rida (ar-rida’), kebenaran (ash-shidiq), petunjuk (al-hidayah) dan pemilihan (al-isthifa’). Para nabi telah mencapai empat tingkatan spiritual yang tinggi ini.
Dalil ketiga: Allah Yang Maha Mulia berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Quran al-Karim dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusuk.” ( QS. Al-Isra’: 107-109)
Melalui ayat-ayat yang mulia di atas dapat kita simpulkan bahwa ilmu dan makrifat (pengetahuan) adalah penyebab timbulnya tangisan. Setiap orang yang mengetahui hakikat sesuatu, mengetahui hakikat Rasulullah saw, dan mengetahui hakikat Imam Husain yang mati syahid, maka hati nuraninya sangat peka atas penderitaan orang lain dan gampang menangis. Hal ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi:
“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan tertawa sedikit dan banyak menangis.”3
Tangisan yang hakiki ini menyebabkan timbulnya rasa khusyuk. Namun hati manusia tidak dapat menjadi khusyuk kalau mereka tidak merasa sedih atas musibah dan kesulitan yang menimpa orang lain.
Dalil keempat: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui; seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.’” (QS Al-Maidah: 83)
Ayat di atas menjelaskan tentang sekelompok orang-orang Nasrani yang beriman di hadapan Rasulullah saw, lalu air mata mereka bercucuran karena mereka mengetahui kebenaran. Jadi, faktor timbulnya tangisan ini adalah pengetahuan akan kebenaran.

MENANGIS DALAM PANDANGAN HADIS

Pertama, disebutkan dalam hadis bahwa mata yang menangis adalah mata yang paling dicintai oleh Allah SWT.4
Kedua, semua mata akan menangis pada hari kiamat karena penderitaan dahsyat di hari itu kecuali mata yang pernah menangis atas musibah yang menimpa Imam Husain. Mata tersebut bergembira riang dengan nikmat surga.5
Ketiga, sesungguhnya mata akan mendapat kenikmatan ketika melihat telaga al-Kautsar di surga. Namun bukan hanya sekadar melihat karena boleh jadi setiap orang bisa melihatnya tetapi tidak mendapatkan kenikmatan.6
Keempat, dalam riwayat disebutkan bahwa para malaikat menyentuh mata untuk mengambil air mata darinya.7
Kelima, hati yang keras (yang tidak gampang menangis) jauh dari rahmat Allah SWT.8
Demikianlah sebagian riwayat yang telah mencapai batas mutawatir (hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi dan disepakati di kalangan ahli hadis) yang sangat menekankan pentingnya menangis, terutama menangis atas Imam Husain, pemimpin para syuhada.
Apakah emosi Anda tidak akan terbakar ketika mendengar musibah yang menimpa Husain bin Ali, dimana ia berlumuran darah, terputus anggota tubuhnya, dan di Karbala—setelah para pendukungnya berguguran—ia berteriak sendirian: “Adakah seseorang yang akan menolongku?” Bagaimana Anda tidak menangis sementara Tragedi Karbala merupakan tragedi yang paling memilukan dalam sejarah Islam, karena ia bukanlah peperangan dan pertempuran sebagaimana mestinya, namun ia adalah pembantaian yang sadis terhadap keluarga Rasulullah saw dan para pembela kebenaran.
 Umar bin Sa`ad menangis ketika memerintahkan untuk membunuh Al-Husain. Orang yang menculik Fatimah Ash-Saghirah menangis,dan Yazid merasa kasihan ketika para tawanan dan kepala-kepala korban pembantaian Karbala dihadirkan di hadapannya.10

Usaha untuk Menangis

Nabi saw tidak hanya memerintahkan kita untuk menangis, bahkan beliau menganjurkan kita untuk pura-pura menangis (tab^aki), yaitu tindakan yang menyerupai orang yang menangis dengan tanpa meneteskan air mata. Dan ini sebagai dalil tentang pentingnya menangis dalam pandangan Islam.
Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw membaca ayat-ayat akhir dari surat Az-Zumar: “Dan orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam berombong-rombongan ,” di hadapan sahabat-sahabat Anshar. Kemudian, para sahabat tersebut menangis kecuali seorang pemuda dari mereka. Dia berkata kepada Nabi: “Tiada setetes air mata yang keluar dari mataku, tetapi aku pura-pura menangis.” Rasul saw menjawab: “Siapa yang berusaha menangis (meski dengan cara pura-pura menangis) maka baginya surga.”11 Berkenaan dengan hal ini, Syekh Muhamad Abduh berkata: “Pura-pura menangis adalah usaha untuk menangis yang bukan karena riya’.”12

Tangisan adalah Senjata Orang Mukmin

Dalam doa Kumail terdapat ungkapan sebagai berikut: “Dan senjatanya adalah tangisan.” Tangisan ini didorong oleh rasa takut pada Allah SWT dan karena rasa malu atas segala bentuk pelanggaran (dosa) dan perbuatan buruk. Dan tangisan seperti ini merupakan senjata orang mukmin dalam menghadapi perang hawa nafsu dan dalam pencapaian maqam (tingkat) spiritual.
Dalam biografi para imam dan para ulama (wali-wali Allah) disebutkan bahwa mereka sering menangis di malam hari. Konon, Imam Khomeini pernah menangis tersedu-sedu di tengah malam seperti seorang ibu yang kehilangan anaknya.

MENGAPA MENANGISI IMAM HUSAIN?

Ketika kita berbicara tentang Tragedi Karbala maka di antara pertanyaan klasik yang muncul ke permukaan ialah: mengapa kita menangisi Imam Husain? Ada beberapa jawaban yang akan kami sampaikan berkaitan dengan pertanyaan tersebut:
Pertama, tangisan atas Imam Husain adalah fenomena cinta dan loyalitas kepadanya. Apakah mungkin ketika Anda mendengar bencana dan musibah yang menimpa kekasih Anda atau teman akrab Anda, Anda menanggapinya dengan dingin dan tidak menangis? Imam Husain adalah kekasih setiap orang mukmin. Dia telah gugur dalam keadaan kehausan lagi teraniaya demi menegakkan kebenaran dan keadilan serta membela keimanan dan kemanusiaan.13
Imam Husain adaah kekasih setiap orang yang beriman dan bukan hanya kekasih orang Syi`ah. Dan tentu, setiap orang yang kehilangan kekasihnya, maka ia akan sedih dan menderita.
Kedua, Rasulullah saw dan para imam dari ahlul bait menangis atas musibah Imam Husain.14 Maka, apakah meneladani Rasul saw termasuk hal yang dibenci dan tercela, padahal Allah SWT telah memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi sebagaimana firman-Nya: “Sungguh terdapat teladan yang baik pada diri Rasulullah saw bagi kalian dan bagi orang yang mengharapkan (pahala) Allah dan hari akhir.” (Al-Ahzab: 21)
Begitu juga para Imam, misalnya Imam Ali Zainal Abidin, yang hidup 35 tahun sepeninggal ayahnya, dimana beliau tidak dapat begitu saja melupakan perisitiwa Karbala. Dikisahkan, bahwa setiap kali dihidangkan makanan atau minuman di hadapannya, beliau selalu mengingat ayahnya Al-Husain lalu menangis sambil berkata, “Bagaimana aku mau makan sedangkan ayahku terbunuh dalam keadaan lapar dan bagaimanan aku mau minum sedangkan ayahku terbunuh dalam keadaan haus.”
Ketiga, menangisi para syuhada termasuk tradisi (sunah) Nabi saw. Ketika Rasul saw kembali dari peperangan Uhud dan tidak mendengar seorang pun menangis atas pamannya Hamzah, maka beliau marah terutama setelah melihat perempuan-perempuan menangisi para syuhada Anshar. Lalu beliau bersabda: “Orang seperti Hamzah layak untuk ditangisi para perempuan.”
Hamzah mati dengan tragis dimana jantungnya dimakan oleh Hindun yang terlaknat. Tapi, kematian Husain lebih tragis lagi, beliau mati dalam keadaan kelaparan dan kehausan, terputus kepalanya, telanjang tanpa busana selama 3 hari serta tersungkur di tanah dengan diinjak-injak kaki-kaki kuda. Hamzah gugur sebagai syuhada tidak di hadapan anak-anaknya dan keluarganya, tetapi Al-Husain dibunuh di depan mata dan telinga anak-anaknya dan keluarganya, bahkan sebagian besar mereka turut terbunuh bersamanya. Bahkan putri-putrinya ditawan dan dipermalukan setelah mereka sebelumnya (di zaman Nabi) dijaga dan dipingit.
Keempat, bahwa tangisan atas Imam Husain bukanlah tangisan kehinaan dan kekalahan, namun ia adalah protes keras atas segala bentuk kebatilan dan sponsornya di sepanjang zaman dan tempat. Muhammad Jawad Mughniyah mengatakan bahwa orang-orang Syi’ah tidak meneteskan air mata kehinaan dan kelemahan, tetapi mereka melantunkan nada-nada kesemangatan (perjuangan) dari tangisan mereka.15
Madrasah Karbala mengajari kita bahwa Yazid itu hidup di sepanjang masa dan begitu juga Husain. Tapi, berapa banyak yang “menjadi” Yazid di sekeliling kita dan berapa banyak yang “menjadi” Husain?
Orang-orang Syi’ah banyak mengambil pelajaran dari tragedi Karbala. Realitas membuktikan bahwa Hizbullah tetap konsisten dalam perjuangan mereka menentang agresi Israel di Libanon Selatan. Pemimpin mereka mengatakan bahwa perlawanan Islam ini diilhami oleh keberanian Imam Husain di Padang Karbala. Padahal mayoritas negara-negara Arab “mencium” tangan Israil yang berlumuran darah orang-orang Muslim yang tak berdosa. Bahkan, Mahatma Gandhi (mantan Presiden Hindia) pernah mengatakan bahwa dia belajar dari Revolusi Al-Husain. Mestinya sebagai orang-orang Islam, kita lebih layak untuk mengambil pelajaran dan hikmah dari madrasah Karbala.

HATI NURANI YANG MATI

Seorang yang tidak tersentuh dan tidak terpengaruh dengan kisah Tragedi Karbala perlu bertanya dan melakukan introspeksi diri: apakah ia masih mempunyai hati nurani yang sehat? Barangkali Allah telah mematikan dan mengeraskan hatinya sehingga lebih keras dari batu sekalipun. Padahal, di antara batu-batu yang keras itu ada yang mengalir sungai-sungai darinya dan ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya serta ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. (QS. Al-Baqarah: 74)
Bagaimana seorang tidak menangis mendengar tragedi pembantaian berdarah di Karbala yang tidak cukup dijelaskan dengan kata-kata dan sulit digambarkan dengan lukisan! Bagaimana seorang Muslim yang berakal sehat tidak menangis sedangkan sejarah menceritakan kepadanya:
Wanita-wanita yang tidak memiliki pelindung dan penjaga… Anak-anak yatim yang tidak mengetahui masa depannya… Kemah-kemah yang dibakar… Perampasan dan perampokan… Pelarian dan pengusiran… Pelecehan kehormatan keluarga Muhammad saw…
Saat terjadi Tragedi Karbala, agama Muhammad diinjak-injak oleh para penjahat, dimana mereka baru kemarin mendengar Rasulullah saw bersabda: “Hasan dan Husain adalah dua pemuda penghuni surga.” Ironis sekali mereka mengaku sebagai seorang Muslim, tetapi tega melakukan kebiadaban yang orang Yahudi dan Nasrani pun memprotesnya. Dalam sejarah disebutkan, ketika utusan Kaisar menemui Yazid dan melihat kepala Al-Husain, dia terkejut dan berkata: “Di sebagian kepulauan di daerah kami terdapat kuku keledai Isa, lalu kami setiap tahunnya sering mengunjunginya guna menyampaikan nazar dan mengagungkannya sebagaimana kalian mengagungkan kitab-kitab kalian. Saya bersaksi bahwa kalian dalam kesesatan.”16
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya terbunuhnya Al-Husain membakar hati orang-orang mukmin dan tidak akan pernah mendingin.”17
Orang-orang mukmin merasakan gelora dalam jiwanya ketika mengenang terbunuhnya Imam Husain, meskipun ada usaha-usaha untuk memadamkan gelora tersebut dan menyebarkan kesamaran dan tuduhan di balik Tragedi Karbala. Bani Umayah telah berusaha untuk memadamkan peringatan hari-hari Muharram (Syura’) dengan berlindung di bawah topeng agama. Bani Umayah menjadikan tragedi itu sebagai hari raya bagi kaum Muslimin dan mensunahkan puasa di hari itu sebagai “tanda terima kasih” kepada Allah SWT atas keberhasilan mereka membunuh Al-Husain. Demikianlah yang terdapat dalam bagian doa ziarah Asyura’: “Inilah hari dimana Bani Umayah bersenang-senang.” Bani Umayah mengadakan acara-acara kesenangan dan tertawa riang ketimbang mengadakan acara-acara kesedihan dan tangisan. Mereka ingin memadamkan gelora itu dan ingin mendinginkannya, seakan-akan mereka tidak melakukan apa-apa, sebagaimana dilakukan Bani Israil dimana setelah mereka membunuh 70 nabi antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari, mereka kembali duduk di pasar-pasar mereka untuk mengadakan jual-beli seakan-akan mereka tidak pernah melakukan sesuatupun.18 Tetapi Allah Maha Perkasa dan Dia memiliki balasan yang setimpal. Allah SWT tetap menyempurnakan cahaya-Nya meski Bani Umayah tidak suka. Allah tetap menjaga gelora spiritual itu tetap menyala di kalbu orang-orang mukmin dan tidak akan pernah padam sampai hari kiamat.

MENJERUMUSKAN DIRI PADA KEHANCURAN

Sebagian orang berkata bahwa orang-orang Syi’ah menjerumuskan diri mereka kepada kehancuran dengan menampar bahkan memukul dada mereka dan kepala mereka sampai melanggar batas kewajaran untuk memperingati Asyura’. Kami tegasan bahwa tamparan dan pukulan untuk mengenang Asyura’ bukanlah termasuk rukun dari rukun-rukun ajaran Syi’ah. Dan mayoritas fuqaha dan ulama tidak membolehkan hal itu jika sampai pada batas membahayakan. Tetapi, terkadang seorang yang menjalin ikatan emosi dengan orang lain, dia tidak mampu menguasai dirinya ketika mendengar kabar buruk yang menimpa kekasihnya, lalu dia pingsan atau boleh jadi mati seketika. Ketika tersebar kabar kematian Imam Khomeini, tanpa disadari beberapa orang mati juga di hari itu karena saking cintanya mereka kepadanya. Begitu juga, ketika penyanyi kesohor dari negeri Mesir, Ummu Kultsum meninggal dunia, beberapa penggemarnya juga mati, juga sebagian mereka berteriak-teriak histeris dan sebagian yang lain mencoba untuk bunuh diri.
Imam Husain adalah kekasih setiap mukmin dan mukminah dan teman dekat setiap Muslim dan Muslimah, sehingga setiap orang mukmin akan merasa sedih atas kepergiannya. Terkadang seorang menangis karena kematian seorang aktor atau artis film, maka bagaimana mungkin dia tidak menangis atas kematian Imam Husain yang mengajari dan menjaga nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebenaran! Seandainya kalau bukan karena jihad sucinya, niscaya Islam akan lenyap bahkan namanya pun tidak akan terdengar.

MASYARAKAT YANG KERAS HATI

Masyarakat kita tidak terbiasa menangis tetapi mereka terbiasa untuk tertawa. Berapa banyak kita temukan majlis-majlis taklim yang dipenuhi dengan canda tawa. Para pemidato menyampaikan materi khotbahnya tidak dengan serius, bahkan sebagian mereka bercanda sampai pada batas melanggar etika dan menggunakan kata-kata jorok di atas mimbar dengan berlindung di bawah topeng agama. Tujuan pidato di atas mimbar adalah membuat para hadirin tertawa. Lalu, bagaimana pidato semacam ini bisa berpengaruh dalam perbaikan jiwa. Pidato semacam itu bukan saja untuk membikin pendengar tertawa tetapi juga untuk “menertawakan” agama. Jika salah satu hadirin ditanya tentang materi khotbah yang telah disampaikan, barangkali dia akan menjawab: penceramahnya lucu sekali.
Kita menemukan cukup banyak pabrik-pabrik canda dan tawa, tapi majlis-majlis serius dan yang membuat hadirin menangis karena teringat akan alam akhirat, kematian, dosa, dan perhitungan amal manusia bisa dihitung jari.
Musuh-musuh Islam telah berusaha–melalui kebudayaan palsu mereka–“membius” masyarakat-masyarak at Muslim, khususnya anak-anak muda dengan pelbagai sarana hiburan dan kesenangan yang terlarang dalam rangka menjauhkan kaum Muslimin dari agama dan jihad suci.
Islam tidak melarang manusia untuk menikmati pesona dunia selama tidak menjauhkan seseorang dari haribaan Tuhannya. Bersenang-senang dan tertawa terbahak-bahak jika telah sampai pada batas menjauhkan manusia dari Allah SWT, maka Islam melarangnya.

——————————————————————————–

1 Al-Malhuf ‘Ala Qatla Al-Thufuf, hal. 98

2 Silakan merujuk Al-Mizan, juz 19 hal. 44

3 Tsumma Ihtadaitu, hal. 63
4 Al-Bihar, juz 45, hal. 207
5 Al-Bihar, juz 44, hal. 293
6 Al-Bihar Anwar, juz 44, hal. 305
7 Kanzul ‘Ummal, juz 1, hal. 148
8 Allu’lu’ wal Marjan, karya An-Nuri, hal. 47
9 Amali As-Shoduq, hal. 140
10 Al-Khashais Al-Husainiyah, hal. 92
11 Kanzul ‘Ummal, juz 1, hal. 147
12 Tafsir Al-Manar, juz 8, hal. 301
13 Silakan merujuk Ma’sat Al-Husain baina As-Sail wal Mujib, hal. 170
14 Ma’sat Al-Husain baina As-Sail wal Mujib, hal. 170 – 171, Majma’ Az-Zawaid, juz 9, hal. 188
15 Al-Husain wa Bathalah Karbala, hal. 42
16 Al-Husain wa Bathalah Karbala, hal. 43
17 Mustadrak Al-Washail, juz 2, hal. 217, Maqtal Al-Husain, karya Abdul Razaq Al-Musawi, hal. 134
18 Al-Luhuf fi Qatla At-Thufuf, hal. 14

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s